Oleh : Purnomo Hadi
Perubahan merupakan suatu keniscayaan. Setiap waktu selalu terjadi sebuah perubahan. Siapa yang menyangka, kita mengajar tanpa murid di depan kita. Siapa yang menyangka kita harus belajar kembali tentang teknologi yang dulu mungkin kita sedemikian gaptek. Kita dipaksa untuk menyesuaikan diri. Kalau kita benar-benar tidak mau menyesuaikan diri, perubahan itu sendiri yang akan memaksa kita mengikutinya. Karena pada dasarnya perubahan itu memang tidak nyaman.
Ketika kita akan melakukan suatu perubahan maka pertama yang harus kita siapkan adalah niat dan tekad yang kuat. Tanpa niat dan tekad yang kuat kita akan mudah berhenti ditengah jalan. Untuk memperoleh niat dan tekad yang kuat maka kita harus tahu tujuan mengapa kita harus berubah, apa yang harus kita rubah, metode apa yang harus kita pakai dalam perubahan itu. Terpenting dalam perubahan adalah kita harus siap menikmati proses perubahan dari sisi ketidaknyamanan atau dari sisi
kenyamanannya.
Setiap perubahan membutuhkan energi. pengorbanan, perjuangan, serta perasaan yang tergadaikan. Bahkan kita harus siap dengan kalimat-kalimat nyinyir di sekitar kita terhadap perubahan yang kita lakukan. Justru dengan adanya ungkapan negatif dari orang lain kepada kita terhadap perubahan itu, harusnya bisa menjadi motivasi untuk perubahan kita ke titik yang lebih baik.
Dengan memiliki motivasi yang kuat dari dalam, maka tidak seorang pun yang mampu menghentikan perubahan yang kita lakukan. Apapun kalimat atau ungkapan yang ada disekitar kita akan mampu menjadi penguat kita ketika tekad kita adalah tekad yang kuat.
Secara psikologis dan emosi ada hambatan baik dari dalam maupun luar dalam diri kita. Yang perlu kita lakukan adalah komitmen dan konsisten atas perubahan itu. Kita adalah pemain bukan penonton. Karena kita pemain, maka kita yang memiliki sejarah dalam perubahan itu.
Perubahan juga memerlukan adanya kesabaran dalam prosenya, karena bisa jadi orang lain tidak setuju dengan perubahan yang kita lakukan. Tapi kesabaranlah yang menjadiakan kita tetap komitmen dan konsisten untuk menjalani perubahan itu. Sabar dan kepasrahan kepada Tuhan merupakan bagian dari titik proses perubahan kita. Tanpa mengaitkan spiritualisme kepada Tuhan yang menciptakan segalanya, kita mungkin akan tumbang di
tengah jalan.
Ketika kita benar-benar melakukan perubahan, maka selayakya kita menikmati prosesnya. Jangan hanya pada hasil akhir. Karena hasil akhir adalah bagian dari proses itu sendiri. Hasil tidak pernah mengkhianati
proses. Prosespun tidak pernah mengkhianati hasil.
Jadikanlah perubahan yang kita lakukan merupakan kontribusi yang baik untuk masa depan. Masa lalu sudah selesai, ambil manfaatnya, belajar darinya. Tapi kita harus siap untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kapasitas sekaligus nilai kemanfaatan kita.
Bukti yang hebat adalah perubahan kita ke titik yang lebih baik. Jangan menunggu bukti atas perubahan kita.
Semoga setiap perubahan yang kita lakukan selalu memberi nilai manfaat yang tinggi bagi sesama.
Radar Kudus, 18 Oktober 2020
